Kita sudah berada di tahun baru lagi. Apakah di tahun baru ini, sebuah kehidupan baru akan kita mulai dan jalani? Kehidupan baru yang lebih baik dari tahun sebelumnya ‘kah? Hari ini, awal 2012, kita sudah harus memulai lagi perjalanan kita mengarungi kehidupan baru yang lebih baik (semoga!). Jika selama setahun lalu, 2011, kita ibarat belajar di sekolah kehidupan kita, apa kira-kira yang telah kita pelajari? Apa yang telah kita peroleh dari kegiatan belajar selama setahun 2011? Apakah diri kita berkembang ke arah yang lebih baik? Apakah kita siap dan punya bekal untuk hidup yang lebih baik di tahun 2012? Apakah kita telah belajar dengan baik di tahun 2011 dan akan lebih baik lagi di tahun 2012?
Menurut Quantum Learning, pelajaran yang masih dapat kita ingat adalah pelajaran yang paling dekat atau terakhir diajarkan kepada kita. Saya pun kini, kalau diminta mengingat pelajaran setahun lalu, yang masih saya ingat adalah yang saya “ikat makna”-nya belum lama ini. Ada tiga “ikatan makna” yang dekat dan masih saya ingat dengan sangat baik. Pertama, refleksi Raditya Dika (lihat: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150474753864333). Kedua, catatan Dahlan Iskan (lihat: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150478238889333). Dan, ketiga, catatan harian saya terkait dengan sehari dalam kehidupan saya di akhir tahun 2011 (lihat: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150481229544333).
Secara kebetulan, ketiga pelajaran menarik di tahun 2011 itu benang merahnya ada pada betapa pentingnya kita terus memiliki ide. Saya takkan mendefinisikan apa itu ide. Saya hanya ingin menunjukkan betapa ide itu penting untuk memelihara kehidupan kita agar terus semarak, bergairah, bergerak (dinamis) serta terus membawa kebaruan dan mampu mendatangkan aneka peristiwa yang lebih menarik. Raditya, sebagai seorang penulis muda, mencontohkan kepada kita bahwa lewat buku dia masih bisa hidup karena berhasil menemukan ide “perpindahan” (hijrah) pada ikan salmon. Dahlan Iskan, sang Menteri BUMN, terus memberikan harapan kepada bangsa dan negaranya karena mau membagikan catatan pengalamannya yang ringan dan enak dibaca dan sarat akan ide-ide segar dan baru (baca catatannya yang berjudul “Yang Punya Ide Terbaik Dapat Avanza”). Saya sendiri juga beruntung (dan harus bersyukur) karena dapat menutup perkuliahan saya di akhir tahun dengan mengajarkan pentingnya memiliki ide.
Kedua, tulus, tanpa pamrih, bersih, terbuka dan bertanggung jawab. Saya ingin menamakan hal kedua ini, yang sulit saya rumuskan secara baik, sebagai -meminjam istilah menarik yang diusulkan oleh sahabat saya, Haidar Bagir- “etos kerja ihsan”. Ketika kita bekerja dan belajar, kita melakukannya secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Seakan-akan Tuhanlah yang mengawasi kita serta seluruh hasil kerja dan belajar kita memang hanya kita persembahkan kepada-Nya semata. Menjalankan “etos kerja ihsan” bukan perkara mudah. Namun, saya yakin bahwa Dahlan Iskan bisa. Karena kita manusia juga sebagaimana Dahlan Iskan, kita pun akan bisa menjalankan “etos kerja ihsan”.
Ketiga, membagikan pengalaman kita kepada orang lain. Saya tak ingin mengatakan bahwa kemampuan Dahlan Iskan menuliskan pengalamannya itu harus dimiliki oleh semua orang. Namun, saya merasakan bahwa kemampuan menulis (membagikan kisah) sebagaimana yang dimiliki Dahlan Iskan bisa dipelajari dan diikuti oleh hampir sebanyak mungkin orang. Tulisan-tulisan Dahlan Iskan adalah tulisan tentang pengalamannya, bukan tulisan ilmiah atau yang memenuhi persyaratan-persyaratan khusus sebagaimana diatur dalam kaidah-kaidah kebahasaan. Tulisan Dahlan Iskan adalah kisah tentang pengalamannya. Dan jika Anda memiliki pengalaman, Anda pasti bisa menuliskan (membagikan)-nya di era digital (internet) seperti saat ini.
Semoga”pelajaran” yang saya petik selama 2011 tersebut dapat membuat saya lebih baik di tahun 2012. Insya Allah! “Happy New Year” dan semoga tahun baru ini memberikan berkah yang lebih banyak kepada Anda semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar